Pacarku bukan pria romantis. Setidaknya itu yang aku tahu setelah 6 bulan kami berpacaran. Awalnya dia tentu saja pria romantis bukan main. Bahkan awalnya kami bisa saling berbicara ditelepon hinga pukul 3 pagi. Sekarang, pukul 10 saja, saling menelpon tetap jadi rutinitas kami, tapi keesokan paginya, kami akan bertanya, siapa yang tidur duluan semalam?
Ketika dia berulang tahun, aku yang pulang kerja jam 5 sore, segera ke kantornya, membawa sebuah kue ulang tahun, lengkap dengan lilin. Juga sebuah kotak kado berisi parfum. Aku ajak dia makan di sebuah restoran seafood, karena beberapa hari belakangan, dia ingin makan kepiting. Walaupun kenyataannya, akulah yang makan. Dia alergi seafood. satu-satunya yang dia bisa makan hanyalah cumi-cumi. Begitulah, betapa romantisnya aku.
Ketika aku yang berulang tahun, aku pula yang ke kantornya, karena jam pulang ku lebih awal daripada kantornya. Setelah kami makan di restoran yang menyediakan beef steak, dia memberikan sebuah kantong plastik, iya, kantong plastik. Bukan paperbag apalagi kotak kado, yang isinya sebuah tas. Betapa tidak romantisnya. Meskipun aku sangat suka tasnya.
Pun di ulang tahun ku, setahun setelah itu. Dia semakin tidak romantis. Dia datang ke kantorku, sebuah moment yang jarang sekali, mengajakku makan pizza, membelikanku satu slice cheese cake. Dan.. No kado. Iya, dia tidak memberikanku kado.
Namun, letak romantisnya justru di situ. Dengan lembut "Sayang, maaf ya gak bisa kasih hadiah. Kita tabung aja ya uangnya. Buat rumah" Kami memang sedang membangun sebuah rumah. Tapi entah mengapa kali itu aku meleleh.
Ya, dia menyisihkan uang cukup banyak untuk itu. Ternyata memang,diusia kami yang masih muda, seikat bunga bukanlah ungkapan sayang yang begitu penting.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar