Senin, 29 Februari 2016

Tak Perlu Seikat Bunga

Pacarku bukan pria romantis. Setidaknya itu yang aku tahu setelah 6 bulan kami berpacaran. Awalnya dia tentu saja pria romantis bukan main. Bahkan awalnya kami bisa saling berbicara ditelepon hinga pukul 3 pagi. Sekarang, pukul 10 saja, saling menelpon tetap jadi rutinitas kami, tapi keesokan paginya, kami akan bertanya, siapa yang tidur duluan semalam?

Ketika dia berulang tahun, aku yang pulang kerja jam 5 sore, segera ke kantornya, membawa sebuah kue ulang tahun, lengkap dengan lilin. Juga sebuah kotak kado berisi parfum. Aku ajak dia makan di sebuah restoran seafood, karena beberapa hari belakangan, dia ingin makan kepiting. Walaupun kenyataannya, akulah yang makan. Dia alergi seafood. satu-satunya yang dia bisa makan hanyalah cumi-cumi. Begitulah, betapa romantisnya aku.

Ketika aku yang berulang tahun, aku pula yang ke kantornya, karena jam pulang ku lebih awal daripada kantornya. Setelah kami makan di restoran yang menyediakan beef steak, dia memberikan sebuah kantong plastik, iya, kantong plastik. Bukan paperbag apalagi kotak kado, yang isinya sebuah tas. Betapa tidak romantisnya. Meskipun aku sangat suka tasnya.

Pun di ulang tahun ku, setahun setelah itu. Dia semakin tidak romantis. Dia datang ke kantorku, sebuah moment yang jarang sekali, mengajakku makan pizza, membelikanku satu slice cheese cake. Dan.. No kado. Iya, dia tidak memberikanku kado.

Namun, letak romantisnya justru di situ. Dengan lembut "Sayang, maaf ya gak bisa kasih hadiah. Kita tabung aja ya uangnya. Buat rumah" Kami memang sedang membangun sebuah rumah. Tapi entah mengapa kali itu aku meleleh.

Ya, dia menyisihkan uang cukup banyak untuk itu. Ternyata memang,diusia kami yang masih muda, seikat bunga bukanlah ungkapan sayang yang begitu penting.




Senin, 22 Februari 2016

PLASTIK BERBAYAR? WHY NOT?


Hai! Postingan pertama setelah bertahun-tahun. Rasanya blog ini udah banyak sampah, debu, gelandangan, tulang belulang. Saya bersih-bersih dulu ya.

2 jam kemudian...

Nah, sekarang udah beres.

Oya, pada tahu gak plastic bag, atau kantong plastik sekarang bayar lho. Terakhir tadi siang, waktu di salah satu minimarket yang depannya A belakangnya A, tengahnya L dan F mart, 1 plastik kecil, dihargai Rp. 200,- Wow.. murah ya? Eit, memang kelihatannya murah, tapi kalo belinya cuman santan instan kayak saya, santannya aja 2.500, plastiknya segitu, mau bawa tenteng ya ga enak dilihat.

Akhirnya, demi membuat pengeluaran ga bertambah kelestarian bumi, maka saya beride untuk membuat semacam dispenser untuk plastik.

Step by stepnya:
  
Step 1. Pilih kardus mana yang kamu mau pake.

Nah, kalo saya sih pake kardus susu. Ukuran kotaknya pas sesuai dengan maunya saya.

Step 2. Potong bagian atas kardus 
Hal ini dilakukan supaya lebih rapi. Dan gak ganggu pas kita mau cemplung-cemplungin plastik baru. Oya, abaikan gambar kakinya ya.

Step 3. Buat pola seperti gambar
Tandai dengan alat tulis dan gunting.
Step 4. Gunting
Sebenernya saya pake cutter sih. Bukan gunting,

Step 5. Hias

Step terakhir, kasih mika di bagian jendela atas. Ini berfungsi untuk mengendalikan abis engganya si plastik. Oiya, plastik yang dimasukkan, dalam keadaan terlipat rapi ya. Kemaren sempet bikin yang semacam tissue, yang cabut-cabut, kelemahannya banyak.
1. Kudu pastiin yang baru terikat ke yang lama, jadi kecantol gitu.
2. Muat dikit
3. Plastik yang dihasilkan, kusut.

Nah, itu aku kasih lakban hitam, karena sistemnya come first out first, jendela bawah supaya ga gampang robek.

Selesai deh!


Budget:
Kardus Rp. 0,-
Mika Rp. 1000,-
Lakban Rp. 0,- (pake stock di rumah)